integritas diri

Integritas Diri

DSC_0162

Kata “Integritas” ditengah kondisi bangsa yang saat ini sedang marak memerangi  perbuatan korupsi,menjadi sebuah tema yang menarik dibahas. Integritas seungguhnya istilah pinjaman dari bahasa Inggris,“intergrity” yang berarti ketulusan hati,kejujuran,atau keutuhan kepribadian. Apakah dengan demikian berarti masyarakat secara umum tidak memiliki lagi ketulusan hati,tidak memiliki kejujuran atau sudah tidak memiliki integritas pribadi?

Tulisan ini tidak bermaksud menafikan perilaku masyarakat kita yang sesungguhnya dikenal relijius,terlalu naif jika kita memandang hal ini secara induktif. Tulisan ini sekedar ingin melakukan deskripsi mengenai apa yang dimaksud “integritas pribadi”.

Pengertian integritas menurut kamus besar bahasa Indonesia integritas adalah mutu,sifat,atau keadaan yg menunjukkan kesatuan yg utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yg memancarkan kewibawaan dan kejujuran.  Mulyadi (2004) mendefinisikan integritas sebagai prinsip moral yang tidak memihak,jujur,seseorang yang berintegritas tinggi memandang fakta seperti apa adanya dan mengemukakan fakta tersebut seperti apa adanya. Antonius Atosökhi Gea dalam buku character building,Bina Nusantara Integritas adalah sebuah keunggulan diri pribadi yang menjadikan seseorang hidup lebih sehat dan tanpa beban,karena mereka menjalankan hidupnya jauh dari aneka kepura-puraan dan kepalsuan. Dimana pun dia berada,dan kondisi apa pun yang menekannya,ia tetap hidup konsisten dengan nilai-nilai yang dianutnya. Orang yang memiliki integritas diri mampu memberi pengaruh besar dan positif dalam kehidupan,bahkan untuk generasi penerus mereka,melalui keteladanan dan apa saja yang mereka selalu perjuangkan. Dalam kamus Merriam-Webster yang paling mutakhir mendefinisikan integritas sebagai ketaatan yang kuat pada sebuah kode,khususnya nilai moral atau nilai artistik tertentu. Jim Burke (Johson & Johson) menyebutnya sebagai suatu mekanisme yang membuat individu dan organisasi mempercayai Anda; Jim Burke (Johson & Johson) menyebutnya sebagai ”suatu mekanisme yang membuat individu dan organisasi mempercayai Anda”;

Menurut pengertian-pengertian diatas dapat diterjemahkan bahwa integritas merupakan sikap pribadi yang mengedepankan kejujuran dalam melihat suatu keadaan dan hal tersebut secara konsisten dijalankan. Sehingga melihat pengertian tersebut integritas merupakan hal dasar yang dimiliki oleh seseorang dan sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar yang membuat tinggi,rendah bahkan menghilangnya integritas. Sehingga karena sangat dipengaruhi oleh keadaan seseorang sering tidak sadar bahwa integritas yang dimiliki menurun secara perlahan ataupun berubah standarnya. Sehingga setiap individu harus menjaga integritas mereka dengan mulai dari memperhatikan hal-hal kecil yang membuat mereka selalu terjaga dan membuat mereka dapat mengendalikan atau memimpin diri sendiri secara benar. Hal tersebut dapat dilakukan juga ketika mereka memimpin orang lain dalam suatu organisasi atau lebih luasnya ketika mereka mendapatkan kesempatan memimpin negaranya atau kepemimpinannya dapat memberikan efek untuk masyarakat luas. Hal kecil tersebut dapat dilakukan dengan tidak berbohong untuk hal sederhana atau mengambil sesuatu milik orang lain tanpa izin,sekecil apapun itu.

Joe badaracco seorang pakar etika bisnis dari Harvard mengatakan,tanda seorang berintegritas tinggi adalah kualitas pertimbangannya saat mengambil keputusan yang sulit yang mungkin dapat dilihat dari kualitas keputusannya. Ia dapat mendorong pengambilan keputusan tersebut menurut kajian yang mendalam bukan sekedar benar salah yang menyederhanakan permasalahan. Sering kali kita dihadapkan permasalahan yang abu-abu karena terjemahan peraturan yang sering kali berbenturan dengan fakta keadaan. Seseorang yang mempunyai integritas tinggi mampu mendengarkan segala masukan dari seluruh pihak setelah dia memahami semua fakta yang terjadi. Kemudian dapat disandingkan dengan intuisinya yang dia yakini sebagai suatu keputusan yang jujur. Keputusan tersebut adalah keputusan subjektif dari pengambil keputusan dengan seobjektif mungkin masukan yang diterima olehnya. Integritas dapat menerima kesalahan yang tidak disengaja dan perbedaan pendapat yang jujur,tetapi tidak dapat menerima kecurangan atau peniadaan prinsip.

Seringkali suatu integritas berdampingan dengan tanggung jawab atau bertanggung jawab. Karena integritas seseorang dalam mengambil keputusan harus pula bertanggung jawab terhadap apapun hasil dari keputusannya yang dia yakini sebagai hal paling jujur dari keadaan tersebut yang sangat mungkin bukan hasil yang diinginkan dari para penerima keputusan. Dia harus tetap bertahan ataupun menerima resiko dari hasil keputusannya dan tidak pernah lari dari hasil yang telah dia putuskan dengan mengalihkan tanggung jawab terhadap orang lain.

Arti kata tanggung jawab dapat juga dilihat melalui kata bahasa Inggris,yakni responsbility. Kata itu merupakan gabungan dari dua kata,yakni response,yang berarti tanggapan,dan ability,yang berarti kemampuan. Secara hurufiah responsbility atau yang kita artikan sebagai tanggung jawab berarti kemampuan memberi tanggapan. Dalam kaitan dengan pekerjaan,tanggung jawab dapat diartikan sebagai kemampuan dalam menanggapi dan menyelesaikan pekerjaan yang dilakukan (F.X.Oerip S. Poerwopoespito,2000:216). Tanggung jawab secara definisi merupakan kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatan baik yang disengaja maupun yang tidak di sengaja. Tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajiban. Masalah tanggung jawab dalam konteks individual berkait­an dengan konteks teologis.Manusia sebagai makhluk indivi­dual artinya manusia harus bertanggung jawab terhadap diri­nya (seimbangan jasmani dan rohani) dan harus bertanggung jawab terhadap Tuhannya (sebagai penciptanya).

Integritas wajib dimiliki oleh siapa saja dalam sebuah organisasi antara pemimpin dan yang dipimpin harus mempunyai pemahaman integritas yang sama. Sehingga kualitas pemimpin dapat dinilai dari bagaimana orang-orang yang dipimpinnya. Karena hakikat dia sebagai pemimpin adalah melayani yang dipimpin,begitupun sebaliknya yang dipimpin harus percaya dan mengikuti pemimpinnya karena dia meyakini pemimpinnya dalam setiap mengambil keputusan sudah dengan integritas dan tanggung jawab tinggi. Dengan begitu rasa saling menunjang dalam sebuah organisasi tersebut dapat terjalin dengan baik dan tujuan organisasinya dapat tercapai. Sehingga Seorang pemimpin yang berintegritas,tidak akan mudah korupsi atau memperkaya diri dengan menyalahgunakan wewenang. Seorang pengusaha yang berintegritas tidak akan menghalalkan segala cara supaya usahanya lancar dan mendapatkan keuntungan tinggi. Singkatnya,orang yang memiliki integritas tetap terjaga dari hal-hal yang mendistraksi dirinya dari tujuan mulia. Sehingga dalam bahasa latin dikatakan integer; incorruptibility ,firm adherence to a code of especially moral a acristic values,yaitu ,sikap yang teguh mempertahankan prinsip ,tidak mau korupsi,dan menjadi dasar yang melekat pada diri sendiri sebagai nilai-nilai moral.

Agar membentuk integritas yang sama antara pimpinan dan yang dipimpin maka dalam suatu organisasi perlu dibentuk kode etik agar membentuk prilaku yang sama. Dalam buku kode etik dan standar audit oleh BPKP dikatakan kepercayaan masyarakat dan pemerintah atas hasil kerja auditor ditentukan oleh keahlian,independensi serta integritas moral/kejujuran para auditor dalam menjalankan pekerjaannya. Integritas apip dalam kode etiknya dikatakan auditor dituntut memiliki kepribadian yang dilandasi oleh sikap jujur,berani,bijaksana,dan bertanggung untuk membangun kepercayaan guna memberikan dasar bagi pengambilan keputusan yang handal. Kualitas integritas auditor dalam konteks pelayanan publik dapat dinilai bagaimana kepercayaan publik terhadap institusi yang diuadit olehnya. Sehingga menurunnya kepercayaan public terhadap institusinya perlu dilakukan juga bagaimana integritas auditor didalamnya apakah nilai-nilai etika yang ditetapkan telah dijalankan dengan baik dan benar,apakah kualitas audit yang dilakukan telah sesuai dengan standar yang ditetapkan dan apakah kepatuhan terhadap aturan yang berlaku telah dijalankan sehingga koreksi secara menyuluruh baik dari sisi auditor dan auditi dapat terjalin dengan baik yang di buktikan dengan meningkatnya kepercayaan masyarakat.

Setiap individu merupakan pemimpin seperti tertulis dalam hadits  Kullukum Ra’in Wa Kullu Ra’ in Mas’ulun ‘An Ra’iyyatihi,Setiap dari kalian adalah pemimpin,dan tiap-tiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya. Oleh karena setiap diri adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawabannya kata integritas menjadi kata penting yang harus dipegang teguh dan dipertahankan dengan baik sebagai wujud pertanggung jawaban kita kepada Allah SWT. Oleh karena itu pemimpin wajib menjunjung tinggi integritasnya karena dia merupakan panutan dan orang yang dicontoh oleh yang dipimpinnya,dalam konteks integritas pada seorang pemimpin (Hutson,2005) dalam tulisannya Trustworthiness mengatakan pemimpin yang berintegritas memiliki empat sikap: pertama,mempertahankan keyakinannya secara terbuka dan berani. Pemimpin harus meyakini setiap keputusan yang diambil dan berani mempertanggung jawabkan,ketika sudah meyakini berarti dia sudah mampu mendengar keluhan atau memahami dengan baik keadaan yang sedang terjadi baik dengan banyak mendengar masukan atau mencari referensi yang cukup sehingga dia dapat meyakini dan berani pada setiap keputusan. Kedua mendengarkan kata hati dan menjalani prinsip-prinsip hidup. Kata hati merupakan sebuah intuisi yang telah diberikan oleh sang pencipta sebagai alarm atau pengingat setiap apa yang telah kita lakukan dia tidak akan berbohong,menjadikan diri tidak nyaman ketika melawan apa yang sebenarnya dikatakan hati. Intuisi memang sudah diciptakan untuk sejalan dengan prinsip hidup yang dia yakini sesuai dengan norma yang ada dimasyarakat dan agamanya menjadikan dia sebagai penanda bila tidak sesuai. Ketiga,bertindak secara terhormat dan benar,perilaku dia yang menjadikannya terhormat bukan karena jabatan atau posisi dia yang membuat orang lain menghormatinya. Dia tidak ingin berbuat sesuatu yang menjadikannya tidak terhormat,dia senantiasa menjaga perilakunya sehingga ketika sedang mempunyai jabatan terhormat dia takut sekali berbuat tidak benar. Keempat,terus membangun dan menjaga reputasi baik. Pengertia dari reputasi adalah suatu nilai yang diberikan kepada individu,institusi atau Negara. Reputasi tidak bisa diperoleh dalam waktu singkat karena harus dibangun bertahun-tahun untuk menghasilkan sesuatu yang bisa dinilai oleh publik. Reputasi juga baru bertahan dan sustainable apabila konsistennya perkataan dan perbuatan..  (Basya,dalam Basya dan Sati. 2006: 6). Reputasi merupakan hasil dari konsistensi integritas diri,orang lain yang memberikan penilaian sehingga seseorang yang memiliki integritas dia bertahan sebisa mungkin menjaga dalam setiap bertindak dan mengambil keputusan.

Diakhir tulisan ini mari kita senantiasa menjaga integritas dalam diri kita masing-masing menjadikan dia sebagai perwujudan dari bukti tanggung jawab kita kepada Allah SWT atas amanah yang diberikan kepada setiap diri kita. Dalam sebuah ungkapan penulis seven habbits,Stephen R.Covey membedakan antara kejujuran dan integritas honesty is telling the truth,in other word,conforming our words reality-integrity is conforming to our words,in other words,keeping promises and ful-filling expectations. Kejujuran berarti menyampaikan kebenaran,ucapannya sesuai dengan kenyataan. Sedang integritas membuktikan tindakannya sesuai dengan ucapannya. Orang yang memiliki integritas dan kejujuran adalah orang yang merdeka. Mereka menunjukan keotentikan dirinya sebagai orang yang tanggung jawab dan berdedikasi. Integritas menjadi kunci kepemimpinan bagaimana dia dapat membuat keputusan yang benar pada waktu yang benar.