Kepemimpinan Yang Bertanggung Jawab

Pemimpin Yang Bertanggung Jawab

image003

Sering kita mendengar akhir-akhir ini perebutan kursi dari anggota DPR/DPRD mereka mengajukan dirinya sebagai pemimpin atau luasnya orang yang dipercaya memegang amanat dari konstituennya. Kemudian pemilihan kepala daerah, pimpinan unit, lembaga, dan kepala Negara mereka berlomba-lomba untuk mengajukan diri menjadi pimpinannya malah terdapat oknum-oknum yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kursi pimpinan tersebut. Dalam jabatan pemerintahan rasulullah pernah mengingatkan abu said (Abdurrahman) bin samurah untuk tidak meminta-minta jabatan Abu Said (abdurrahman) bin samurah r.a. Berkata: rasulullah saw telah bersabda kepada saya: Ya Abdurrahman bin Samurah, jangan menuntut kedudukan dalam pemerintahan, karena jika kau diserahi jabatan tanpa minta, kau akan dibantu oleh Allah untuk melaksanakannya, tetapi jika dapat jabatan itu karena permintaanmu, maka akan diserahkan ke atas bahumu atau kebijaksanaanmu sendiri. Dan apabila kau telah bersumpah untuk sesuatu kemudian ternyata jika kau lakukan lainnya akan lebih baik, maka tebuslah sumpah itu dan kerjakan apa yang lebih baik itu. (Bukhari, Muslim).

Kadang kita sering lupa ketika menjadi pemimpin itu tanggung jawab yang dipegangnya bukan hanya berdampak kepada dia tetapi seluruh civitas yang dipimpinnya. Dalam sebuah hadits tentang tanggungjawab seorang pemimpin Ibn umar r.a berkata : saya telah mendengar rasulullah saw bersabda : setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang isteri yang memelihara rumah tangga suaminya akan ditanya perihal tanggungjawab dan tugasnya. Bahkan seorang pembantu/pekerja rumah tangga yang bertugas memelihara barang milik majikannya juga akan ditanya dari hal yang dipimpinnya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya (diminta pertanggungan jawab) darihal hal yang dipimpinnya. (buchary, muslim)

Bayangkan bila dia berlaku tidak adil atau berkhianat harus menanggung dosa dari seluruh orang yang dipimpinnya. Pemimpin yang telah berbuat tidak adil dan rakyatnya merasa ter zhalimi atas tindakan tindakannya harus sangat berhati-hati karena karena bila sampai dia berdoa atau bersumpah allah akan mengijabahnya memang menyenangkan setiap orang tidak bisa apalagi kita sebagai pemimpin tetapi semua itu kita dapat mengukurnya sendiri. Kata adil memang kata pendek yang bila kita telah menjalaninya sangat sulit kadang pemimpin harus mengambil keputusan tidak popular demi tercapainya visi misi institusi yang dipimpinnya. Niat yang menjadi kunci dari setiap tindakan yang kita ambil bila terdapat niat sedikit saja sebagai pemimpin zhalim kita harus berhati-hati karena laknat alla sangat dekat dan orang-orang yang terzhalimi tersebut doanya sangat mustajab: “Doa orang yang dianiaya itu mustajab, sekalipun dia seorang yang berbuat maksiat, karena kemaksiatannya itu adalah tertanggung ke atas dirinya sendiri”. (Riwayat Ahmad). “Tiga do’a yang dikabulkan, yaitu do’a orang yang berpuasa, do’a orang yang bepergian, dan do’a orang yang teraniaya.” (HR. Uqaili, dari Abu Hurairah) Takutlah kepada doa orang-orang yang teraniyaya, sebab tidak ada hijab antaranya dengan Allah (untuk mengabulkan)”.(Shahih Muslim, kitab Iman 1/37-38).

Sebuah contoh dalam sejarah yang dikemukakan oleh Allah dalam Al-Qur’an ialah tindakan Fir’aun yang berbuat aniaya dan zhalim kepada kaum Nabi Musa. Walaupun kaum Nabi Musa tidak mampu membalas kezhaliman Fir’aun secara langsung dan bahkan Musa dengan kaumnya dikejar-kejar oleh Fir’aun secara langsung dan bahkan Musa dengan kaumnya dikejar-kejar oleh Fir’aun dan tentaranya untuk dibunuh, namun ternyata allah yang membalas kezhaliman Fir’aun dan tentaranya. Allah menenggelamkan mereka di Laut Merah ketika mengejar Musa dan Kaumnya. Jadi, yang langsung menghancurkan dan menghukum Fir’aun dan pasukannya adalah Allah sendiri. Kejadian ini wajib menjadi pelajaran bagi kita dimana saja dan kapan saja bahwa orang-orang yang teraniaya dekat dengan Allah. Allah selalu memberikan pembelaan dan pertolongan kepada mereka untuk membalas orang-orang yang menganiayanya. Tetapi sebaliknya

Dalam sejarah ulama salaf, diriwayatkan bahwa khalifah rasyidin ke V Umar bin Abdil Aziz dalam suatu shalat tahajjudnya membaca ayat 22-24 dari surat ashshoffat yang artinya : (Kepada para malaikat diperintahkan) “Kumpulkanlah orang-orang yang zhalim beserta teman sejawat mereka dan sembah-sembahan yang selalu mereka sembah, selain Allah: maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka. Dan tahanlah mereka di tempat perhentian karena mereka sesungguhnya mereka akan ditanya (dimintai pertanggungjawaban ).”, Dalam riwayat lain Umar bin Khatab r.a. mengungkapkan besarnya tanggung jawab seorang pemimpin di akhiarat nanti dengan kata-katanya yang terkenal : “Seandainya seekor keledai terperosok di kota Baghdad nicaya Umar akan dimintai pertanggungjawabannya, seraya ditanya : Mengapa tidak meratakan jalan untuknya ?” Itulah dua dari ribuan contoh yang pernah dilukiskan para salafus sholih tentang tanggungjawab pemimpin di hadapan Allah kelak.

Definisi “Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi, dalam situasi tertentu dan langsung melalui proses komunikasi untuk mencapai satu atau beberapa tujuan tertentu “ (Tannebaum, Weschler and Nassarik, 1961, 24). “Kepemimpinan adalah suatu proses yang mempengaruhi aktifitas kelompok yang diatur untuk mencapai tujuan bersama” (Rauch & Behling, 1984, 46). Seorang pemimpin adalah seseorang yang mempunyai keahlian memimpin, mempunyai kemampuan mempengaruhi pendirian/pendapat orang atau sekelompok orang tanpa menanyakan alasan-alasannya. Seorang pemimpin adalah seseorang yang aktif membuat rencana-rencana, mengkoordinasi, melakukan percobaan dan memimpin pekerjaan untuk mencapai tujuan bersama-sama (Panji Anogara, Page 23). Kepemimpinan dalam konsep Al-Qur’an disebutkan dengan istilah Imamah, pemimpin dengan istilah imam. Al-Qur’an mengkaitkan kepemimpinan dengan hidayah dan pemberian petunjuk pada kebenaran. Seorang pemimpin tidak boleh melakukan kezaliman, dan tidak pernah melakukan kezaliman dalam segala tingkat kezaliman: kezaliman dalam keilmuan dan perbuatan, kezaliman dalam mengambil keputusan dan aplikasinya. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa kepemimpinan adalah ilmu dan seni mempengaruhi orang atau kelompok untuk bertindak seperti yang diharapkan dalam rangka mencapai tujuan secara efektif dan efisien.

Pemimpin dapat mempengaruhi masyarakat atau orang yang dipimpinnya sehingga pemimpin punya pengaruh yang kuat dalam mencapai tujuan keberhasilan organisasinya. Pemimpin sangat mempengaruhi setiap kondisi yang terjadi di institusi yang dipimpinnya. Kepemimpinan mempunyai tugas  melaksanakan fungsi-fungsi manajemen: merencanakan, mengorganisasikan, menggerakkan, dan mengawasi. Menurut Hadari Nawawi (1995:74), fungsi kepemimpinan berhubungan langsung dengan situasi sosial dalam kehidupan kelompok masing-masing yang mengisyaratkan bahwa setiap pemimpin berada didalam, bukan berada diluar situasi itu Pemimpin harus berusaha agar menjadi bagian didalam situasi sosial keiompok atau organisasinya. Dalam setiap pengambilan keputusan yang terjadi di dalam institusi yang dipimpinnya dia harus bertanggungjawab jadi tidak ada keputusan hasil bawahan dan dipertanggungjawabkan oleh bawahan. Pimpinan harus mempunyai cara dan alat untuk mengontrol roda organisasi sehingga setiap keputusan yang diambil dan dijalankan tepat, dan hasil keputusan yang terjadi dapat dipertanggungjawabkan dengan sepenuhnya.

Akhir-akhir ini sering kita menyaksikan pimpinan-pimpinan organisasi muncul di media dengan bangga saya telah memecat anak buah saya terhadap kesalahan yang mereka lakukan, memutasi atau telah memberikan sanksi yang berat terhadap anak buahnya. Penunjukan seorang pejabat, pimpinan lembaga pada saat ini secara tiba-tiba mereka tidak dapat mempersiapkan apapun ditempat yang akan dia tempati karena yang bersangkutan baru tau akan dilantik saat detik-detik pelantikan. Bagaimana kita akan tau job comptancy seseorang pada tempat yang akan ditempati bila kita sendiri tidak memberi tahu atau meminta dia mempersiapkan. Praktik-praktik seperti ini yang harus sudah mulai dirubah suatu jabatan atau posisi bukan menjadi sesuatu yang seolah-olah “misterius” pada mendapatkannya. Recruitment, selection, dan decision  merupakan rangkaian tahapan yang dapat diketahui dan harus dijalankan.

Memang dalam bekerja pemimpin memerlukan orang-orang yang mereka percaya dalam menduduki jabatan-jabatan tertentu, tidak dapat dipungkuri pemilihan atas dasar kedekatan, ras, golongan dan kekerabatan masih menonjol dilakukan. Hal tersebut tetapi jangan dijadikan prioritas utama hanya sebagai point penambah saja, tetap dasar-dasar seleksinya harus ada dan terbuka. Keterbukaan tersebut akan menimbulkan rasa saling percaya di organisasi, bahwa setiap karyawan didalamnya mendapatkan peluang yang sama dalam menduduki jabatan, sesuai dengan tahapan-tahapan yang dibutuhkan. Proses seleksi yang transparan menimbulkan rasa percaya yang tinggi pada bawahan terhadap atasannya karena mereka dapat mengetahui dengan baik bahwa atasannya merupakan orang yang benar-benar mampu menduduki jabatan tersebut. Begitupun sebaliknya pimpinan dapat mengetahui dengan baik individu-individu dari setiap bawahannya sehingga baik dari sisi perilaku dan kemampuan pimpinan dapat dengan tepat mendelegasikan sebuah perintah kepadanya. Hal ini dapat dilakukan bila recruitment, selection dan decision dilakukan dengan baik.

Hubungan yang didasarkan rasa saling percaya di antara anggota organisasi bukanlah rasa percaya yang timbul begitu saja, tetapi adalah rasa percaya yang sengaja ditumbuhkan. Artinya bahwa masing-masing anggota organisasi harus bekerja dalam proses yang saling berbuka diri (self-disclosure) satu dengan lainnya (Giddens, 1995). Rasa percaya dapat menutupi kekurangan dalam pengetahuan, karena rasa percaya menyebabkan seseorang menaruh kepercayaannya pada keahlian dari orang lainnya (Smets et al, 1999). Dengan adanya saling percaya membawa pertukarang informasi didalam organisasi. Mekanisme rasa saling percaya mengurangi biaya-biaya pemantauan dan aktivitas pemberian sanksi (Coleman, 1990, Fukuyama 1995).

Kualitas dari pemimpin seringkali dianggap sebagai faktor terpenting dalam keberhasilan atau kegagalan organisasi (Bass, 1990, dalam Menon, 2002). Seorang pemimpin mempunyai tanggung jawab untuk melaksanakan tugas serta tanggung jawab yang demikian dituntut adanya seorang pemimpin yang mengenal secara keseluruhan anggota organisasi sehingga dapat menumbuhkan kerja sama yang harmonis diantara komponen organisasi, disini peran pemimpin menjadi sangat penting dalam keberhasilan organisasi yang dipimpinnya dalam hal arahan (direktif), supportif, partisipatif dan orientasi prestasi untuk kepuasan kerja, komitmen organisasi dan kinerja bawahannya. Pimpinan harus dapat mengkomunikasikan dengan baik tujuan masa kepemimpinannya kepada para bawahannya. Oleh karena itu dia harus dapat memastikan bahwa perintah-perintahnya dapat dilaksanakan dengan baik oleh bawahannya sehingga dia mempunyai control atas keperhasilan tujuan yang ingin dia capai.

Seringkali kita mendapati pemimpin yang “dikendalikan” bawahannya, hal ini dikarenakan control dia akan institusi atau kantornya tidak berjalan baik, bawahan yang seharusnya menjalani peran supporting malah dapat mengarahkan (direktif) organisasi yang akhirnya dilegalkan oleh pimpinanannya. Kenapa disebutkan dilegalkan?karena keputusan-keputusan tersebut dikeluarkan oleh pimpinan walaupun sebenarnya dikendalikan oleh bawahannya. Hal-hal ini membawa dampak yang tidak sehat dalam organisasi dan menurunnya kepercayaan terhadap pimpinan hanya menjadi “boneka” dalam tercapainya hasrat bawahan dan tujuan keberhasilan organisasi menjadi tidak terarah karena pimpinan yang seharusnya menjadi motor penggerak organisasi tidak jalan.

Menurut Robbins et al. dalam bukunya berjudul “Management” (2000), para peneliti telah menemukan lima komponen dari suatu kepercayaan karyawan terhadap pimpinannya, yaitu:

  1. Integritas, pimpinan sebagai figure utama anggota organisasi tindakannya, kejujurannya dan moralitasnya akan ditiru oleh anggota organisasinya. Pimpinan akan sulit menegakan integritas dalam organisasinya bila dirinya dipandang kurang berintegritas oleh anggota kelompoknya.
  2. Kompetensi, dimana sang pimpinan memiliki pengetahuan dan ketrampilan teknis dan hubungan antarpersonal yang baik. Pengetahuan yang baik meningkatkan kepercayaan bawahannya terhadap setiap keputusan yang dia ambil. Pimpinan harus mampu mencontohkan bukan hanya “bicara” tetapi sisi teknisnya sudah mengetahui dengan baik.
  3. Konsistensi, yakni dapat diandalkan. Pimpinan telah mempunyai langkah-langkah dalam menuju keberhasilan organisasinya. Pimpinan dapat secara konsisten dalam menerapkan kebijakan-kebijakan yang diambil tidak sedikit-sedikit berubah. Oleh karena itu pimpinan telah memikirkan dengan matang program-progam yang dia ciptakan dan mempertanggung jawabkan program-program tersebut.
  4. Loyalitas, dimana sang pimpinan memiliki keinginan kuat melindungi dan menjaga karyawannya. Menjaga disini tidak diartikan sempit menjaga dalam makna loyalitas, pimpinan dapat memastikan bahwa langkah-langkah kebijakan yang telah diambil oleh bawahannya merupakan jabaran dari kebijakan besar yang telah dia buat. Apabila ada pihak-pihak yang menentang atau tidak setuju maka dia tampil didepan sebagai wujud loyalitasnya terhadap organisasinya.
  5. Keterbukaan, pimpinan dapat saling bertukar informasi ataupun dapat menerima masukan dari bawahan dan menjelaskan dengan program-program kebijakan yang akan diambilnya. Keterbukaan menjadi pondasi jalannya organisasi.

Anda jangan mengharapkan dipercaya atau diangkat menjadi pemimpin jika seseorang yang mengangkat mu sudah mengetahui anda tidak memiliki kejujuran. Sekali anda tidak jujur, seumur hidup orang tidak akan mempercayaimu. Sangat sulit dibayangkan seseorang diangkat sebagai pemimpin yang sudah tidak dipercaya oleh pengikut atau bawahannya. Oleh sebab itu esensi kepemimpinan adalah kepercayaan. Pemimpin juga tidak boleh bersifat otoriter atau memaksakan kehendaknya tanpa mempertimbangkan pendapat orang lain, dalam hadits dikatakan “Sesungguhnya sejahat-jahat pemerintah yaitu yang kejam (otoriter), maka janganlah kau tergolong daripada mereka.” (HR. Buchary, Muslim)

Terakhir posisi pemimpin merupakan amanat yang dititipkan dalam hadits dikatan “Abu dzar berkata : ya rasulallah tidakkah kau memberi jabatan apa-apa kepadaku? Maka rasulullah memukul bahuku sambil berkata : hai abu dzar kau seorang yang lemah, dan jabatan itu sebagai amanat yang pada hari qiyamat hanya akan menjadi kemenyesalan dan kehinaan. Kecuali orang yang yang dapat menunaikan hak dan kewajibannya, dan memenuhi tanggung jawabnya”. Janganlah kita mengira bahwa menjadi seorang peimimpin dengan sendirinya akan bergelimang harta dan kehormatan. Padahal, harta dan kehormatan itu justru menjadi batu sandungan yang bisa mengakibatkan seseorang terjerumus ke dalam jurang kenistaan. Sehingga kita harus berhati-hati terhadap amanat tersebut dan menjalankannya hanya karena allah ta’ala. Begitu banyak godaan yang diterima terutama dari “pembisik” atau orang dekat yang berada disekitar kita seakan-akan berposisi untuk membantu kita padahal sedang menjerumuskan Abu si’id dan abu hurairah r.a. Berkata : rasulullah saw bersabda : allah tiada mengutus seorang nabi atau mengangkat seorang khalifah, melainkan ada dua orang kepercayaan pribadi, seseorang yang menganjurkan kebaikan, dan seorang yang menganjurkan kejahatan. Sedang orang yang selamat ialah yang dipelihara oleh allah. (buchary).  Demikian tulisan ini dibuat semoga dan memberikan tambahan wawasan dan semoga kita tergolong pemimpin yang amanat.